Selasa, 23 September 2014
Home » Bisnis Daerah, Pilihan, Terkini » Sehari Tanpa Premium, Bos SPBU Al-Ma’soem Ngaku Bakal Rugi Sebesar Rp 2,92 M

Sehari Tanpa Premium, Bos SPBU Al-Ma’soem Ngaku Bakal Rugi Sebesar Rp 2,92 M

Foto: SPBU Pertamina (esq-news)

SPC, Bandung – Rencana Gerakan Sehari Tanpa BBM yang akan digulirkan seperti kebijakan Hari Bebas Kendaraan Bermotor dinilai akan merugikan pengusaha Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum atau SPBU.

Selain akan kehilangan pendapatan dalam jumlah besar, pengusaha juga khawatir menjadi sasaran kemarahan konsumen.

Jika jadi dilaksanakan, gerakan yang diagendakan berlangsung pada 2 Desember itu akan membuat kerugian distribusi yang tidak sedikit.

Bos SPBU Masoem Grup Dahat Gunadi menilai kebijakan tersebut akan merugikan usahanya hingga Rp2,92 miliar. Menurutnya, distribusi BBM per hari menghabiskan 400.000 liter premium dan 150.000 liter solar.

Dia menjelaskan distribusi BBM dilakukan ke 26 SPBU Masoem Grup a.l Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Garut.

Menurutnya, rencana kebijakan tersebut akan dilakukan secara berkala setiap hari minggu seperti kegiatan car free day.

“Kebijakan itu harus dievaluasi karena dapat merugikan pengusaha SPBU,” ujar Dahat, seperti dikutip, Senin (26/11).

Dahat mengemukakan gerakan sehari tanpa BBM bersubsidi dapat menimbulkan antrean panjang di SPBU sehari sebelum program itu dilaksanakan.

Selain masalah antrean panjang, hal lain yang dikhawatirkan adalah adanya konfrontasi antara petugas SPBU dengan konsumen yang memaksa untuk tetap mendapatkan BBM subsidi jenis premium.

Oleh karena itu, dia mendesak BPH Migas segera mengevaluasi rencana tersebut karena bisa berdampak besar terhadap pengusaha dan masyarakat. Dahat menjelaskan, saat pembatasan pengiriman BBM ke sejumlah SPBU (19/11)-Minggu (25/11) kemarin sebesar 10% saja sudah merugikan.

“Apalagi kalau sehari tidak melakukan pengiriman,” jelasnya. Dia mengaku kerugian bukan hanya terjadi pada pengusaha, tetapi juga masyarakat.

Menurut Dahat, saat pemotongan 10% masyarakat banyak yang mengeluh dan pihaknya tidak bisa berbuat banyak karena stok BBM memang kosong. “Ini yang harus dihindari adalah konflik dengan konsumen [masyarakat]. Mereka kan tidak tahu apa-apa tentang pemotongan, tetapi kami yang harus tanggung jawabnya,” ungkap Dahat.  (SPC-20/k24)

Berita Terkait

Leave a Reply

Mobile Site

QR Code - scan to visit our mobile site

Archives

Enter your email address to subscribe to this site and receive notifications of new posts by email.

Join 203 other subscribers

© 2014 SuaraPengusaha.Com. All Rights Reserved | Pindah ke Situs Mobile