Rabu, 22 Oktober 2014
Home » Market, Pilihan, Terkini » DPR Nilai Pelonggaran Impor Buah dan Sayur Berbahaya

DPR Nilai Pelonggaran Impor Buah dan Sayur Berbahaya

Ilustrasi (Foto: IST)

SPC, Jakarta – Wakil Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera Bidang Ekonomi, Keuangan, Industri dan Teknologi Sohibul Iman menilai pelonggaran impor produk hortikultura akan mendorong membanjirnya buah dan sayur impor.

“Dalam jangka panjang dikhawatirkan, insentif untuk petani dan daya saing hasil pertanian kita semakin redup. Kita tahu bahwa banyak negara lain yang memberikan subsidi besar-besaran untuk petaninya sehingga harganya murah. Kita perlu membatasi impor komoditas buah-buahan dan sayur-mayur. Kita negara agraris dengan jumlah petani yang sangat besar. Sungguh sebuah ironi bila negara agraris yang subur ini yang menguasai pasar domestik adalah justru produk pertanian asing,” ujar Sohibul di Jakarta, Senin (1/10/2012).

Sebagaimana diketahui, Kementerian Perdagangan telah merevisi Permendag No. 30/2012 tentang Ketentuan Impor Produk Hortikultura menjadi Permendag No. 60/2012 yang baru ditandatangani pada 21 September.

Peraturan ini memberikan regulasi terkait kewajiban importir terdaftar dan importir produsen, wajib label, verifikasi dan lainnya. Kebijakan ini diberlakukan mulai 28 September 2012.

Namun aturan ini berbeda dengan kebijakan pegetatan pintu masuk impor hortikultura yang berlaku sejak 19 Juni lalu.

“Yang memang kita sayangkan secara mendasar regulasi ini tidak lagi mengatur aspek mendasar yang harus diperhatikan dalam setiap importasi. seperti ketersediaan produk dalam negeri dan keamanan pangan produk hortikultura. Harusnya ada sistem kuota importasi buah, sayur dan produk hortikultura lainnya secara rigid. Ketergantungan dan dominasi produk hortikultura luar negeri dipasar domestik tentu tidak sehat”, ujarnya.

Dalam regulasi tersebut, penentuan alokasi impor nasional juga tidak memerlukan lagi kesepakatan yang diambil dari rapat koordinasi tingkat

menteri dengan mempertimbangkan produksi dan konsumsi dalam negeri. Kewajiban pencantuman label dalam bahasa Indonesia pun tak memerlukan lagi surat keterangan pencantuman label dalam bahasa Indonesia (SKPLBI).

“Kita juga perlu memperbaiki dukungan akses lahan, anggaran dan perbaikan kelembagaan untuk pertanian agar produk hortikultura kita meningkat dan semakin berkualitas seperti Thailand,” tegasnya.

Menurut data Kementan,perkembangan impor buah dan sayur mengalami perkembangan yang sangat drastis. Pada tahun 2008, nilai impor produk hortikultura baru mencapai US$ 881,6 juta, tetapi pada 2011 nilai impor produk hortikultura sudah mencapai US$ 1,7 miliar (dengan kurs Rp 9.500, sekitar Rp16,15 triliun).

Komoditas hortikultura yang impornya paling tinggi adalah bawang putih senilai US$ 242,4 juta (sekitar Rp 2,3 trilun), buah apel sebanyak US$ 153,8 juta (sekitar Rp1,46 triliun), jeruk US$ 150,3 juta (sekitar Rp1,43 triliun) serta anggur sebanyak US$ 99,8 juta (sekitar Rp 943 miliar).

Meskipun impor hortikultura masih di bawah angka 10%, namun kecenderungannya terus meningkat. (SPC-15/Kompas)

 

Berita Terkait

Leave a Reply

Mobile Site

QR Code - scan to visit our mobile site

Archives

Enter your email address to subscribe to this site and receive notifications of new posts by email.

Join 205 other subscribers

© 2014 SuaraPengusaha.Com. All Rights Reserved | Pindah ke Situs Mobile