Bosowa Siap Bangun PLTU Jeneponto Tahap II US$ 330 Juta
Korporasi, Pilihan, Terkini Friday, August 10th, 2012 - 05:13 pm
SPC, Jeneponto—Kelompok Usaha berbasis di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Bosowa siap membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap Jeneponto (PLTU) tahap II berkapasitas 1 x 300 Mega Watt (MW) di Punagaya, Bangkala, Jeneponto, Sulawesi Selatan.
Melalui anak usahanya PT Bosowa Energy, perseroan akan berinvestasi senilai US$ 330 juta. Demikian diutarakan Chief Executive Officer (CEO) Bosowa sekaligus Presiden Direktur PT Bosowa Energy Erwin Aksa.”Total investasi yang akan disiapkan itu kurang lebih sama dengan nilai investasi untuk PLTU Jeneponto tahap I yang berkapasitas kapasitas 2 x 125 MW,” ujar Ketua Dewan Pembina BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) ini di sela-sela firing dan steam blowing atau uji coba mesin PLTU Jeneponto tahap I unit kedua, Jumat (10/8/2012).
Erwin mengatakan, sumber pendanaan tahap II ini nanti berasal dari lembaga keuangan asing China Construction Bank (CCB) dan sisanya dari sindikasi pendanaan dalam negeri. “Hampir sama juga dengan pembangkit listrik yang pertama, 60% dari investasi untuk pembangkit listrik kedua nanti berasal dari luar negeri melalui China Construction Bank (CCB), sisanya perbankan dalam negeri melalui sindikasi sejumlah perbankan,” tutur Erwin yang juga Anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) ini.
Sedangkan untuk PLTU tahap III dan IV yang berkapasitas daya 300 MW direncanakan akan dibangun pada awal tahun depan, dan diperkirakan beroperasi pada akhir 2014 nanti. “Saat ini, kami sedang mengurus semua izin di pusat. Sambil menunggu izin dari pusat, kami sudah mulai menyiapkan beberapa kebutuhan, seperti peralatan konstruksi,” pungkas Erwin.
Di paparkan Erwin, pembangkit listrik itu akan berdampingan dengan lokasi PLTU tahap pertama. Total lahan yang dimiliki Bosowa Energi, khususnya di wilayah Jeneponto, masih cukup luas, yaitu sekitar 80 hektare. Dipaparkan Erwin, Bosowa akan fokus berinvestasi di sektor kelistrikan di Kabupaten Jeneponto ke depan. Sebab mengingat potensi pasar daya listrik di Sulawesi Selatan mencapai 1.000 MW.
Beroperasi Penuh
Pada bagian lain, pada hari ini juga PLTU Jeneponto tahap I dinyatakan beroperasi secara penuh setelah menjalani firing dan steam blowing atau uji coba mesin untuk unit kedua. “Uji coba mesin unit kedua ini untuk melihat apakah mesin tersebut sudah berfungsi dengan baik atau belum,” papar Erwin. Dikatakan Erwin, PLTU Jeneponto Tahap I ini menelan investasi sebesar US$ 250 juta dan akan dibeli oleh PLN sebesar 200 MW dengan harga jual US$5,5 sen per Kwh, diluar batu bara. Sedangkan, sisanya akan dipakai dan cadangan jika PLN masih membutuhkan daya lagi.
Pembangunan PLTU Jeneponto Tahap I hingga masuk ke sistem PLN merupakan konstruksi tercepat yang pernah dikerjakan di Indonesia. Terhitung hanya memakan waktu 19 bulan dari 30 bulan yang ditargetkan.
Dia mengatakan, dengan adanya PLTU ini akan menerangi Kota Makassar secara khusus dan sekitarnya serta menyediakan kebutuhan energi di Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) secara umum. Adanya pasokan baru ini diperkirakan PT PLN akan menghemat anggaran sekitar Rp 4 triliun. “Mesin-mesin diesel PLN akan berhenti meminum Bahan Bakar Minyak (BBM) ada penghematan sampai Rp 4 triliun,” papar CEO Bosowa Erwin Aksa di Jakarta, hari ini.
Erwin mengatakan, tak sekedar efisien, dampak adanya PLTU Jeneponto ini bagi industri di Sulsel akan sangat signifikan. “Industri di Sulawesi Selatan akan mendapat pasokan yang cukup. Dan ini berita bagus buat pertumbuhan industri di Sulsel,” ucap Erwin.
Kawasan Industri
Sejalan dengan investasi listrik ini, Bosowa juga akan menjadikan Kabupaten Jeneponto sebagai kawasan industri, utamanya industri besar dan strategis. Sebelumnya Sulawesi Selatan sudah memiliki Kawasan Industri Makassar (Kima), yang juga tidak jauh dari lokasi pembangkit listrik. Di kawasan ini nantinya akan menjadi sentra pengembangan manufaktur bagi industri olahan.
“Kami berharap dengan adanya pembangkit listrik di daerah ini, akan muncul banyak industri pengolahan, seperti smelter nikel, baja, dan lain sebagainya. Daerah ini memang tidak bisa berharap dari sektor pertanian, jadi hanya bisa berharap dari sektor industri,” ujar Erwin.(spc-05)




























