Sabtu, 18 Mei 2013
Home » Pilihan, Suara Pemerintah, Terkini » Wah, 24 BUMN Berpotensi Terkorup

Wah, 24 BUMN Berpotensi Terkorup

Koordinator Investigasi dan Advokasi Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Uchok Sky Khadafi (Foto: IST)

SPC, Jakarta – Satu lagi data terbaru mengenai potensi korupsi di lembaga milik negara. Kali ini, potensi korupsi di BUMN-BUMN berdasarkan analisis hasil audit BPK selama 2005-2012.

Menurut, Koordinator Investigasi dan Advokasi Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran Uchok Sky Khadafi yang merilis informasi itu, terdapat 24 BUMN yang memuncaki perusahaan paling terkorup berdasarkan data itu.

“Potensi kerugian negara yang bisa disebabkan adalah Rp 4,9 trilyun dan US$305 Juta,” ujar Uchok di Jakarta, Minggu (15/7/2012).

menurut Uchok, di antara banyak penyebab potensi penyimpangan itu, faktor terkuat adalah kelemahan sistem pengendalian internal, sistem pengendalian akuntansi, dan pelaporan catatan keuangan yang tidak akurat, kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran perusahaan dan kelemahan struktur pengendalian intern.

“Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai dalam BUMN. SOP juga tak jarang tidak ditaati.”

Dari total 24 BUMN yang berpotensi terkorup itu, PT Telekomunikasi Indonesia dengan potensi penyimpangan anggaran yang merugikan negara mencapai Rp 12 milyar dan US$ 130 juta.

Menyusul PT Rajawali Nusantara Indonesia dengan nilai Rp 904,85 milyar. Urutan ketiga ditempati PT Jasa Marga dengan potensi penyimpangan sebesar Rp 605 milyar.

Berikut adalah daftar BUMN yang berpotensi terkorup tersebut:

1. PT Telekomunikasi Indonesia (Rp12 milyar, US$130 juta)
2. PT Rajawali Nusantara Indonesia (Rp904 ,8 milyar)
3. PT Jasa Marga (Rp605 ,4 milyar)
4. PT Bahana PUI (Rp237 ,8 milyar, US$39,5 juta)
5. PT PLN (Rp556 ,5 milyar)
6. PT Pembangunan Perumahan (Rp330 ,6 milyar)
7. PT Hutama Karya (Rp300 ,6 milyar, US$940 ribu)
8. PT Pertamina (US$ 32,4 juta)
9. PT Danareksa (US$ 28,1 juta)
10.PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Rp154 milyar, US$12,7 juta)
11. PT Wijaya Karya (Rp129 milyar, US$11,4 juta)
12. PT PPA (US$25 juta)
13. PT Taspen (Rp165,7 milyar)
14. PT Nindya Karya (Rp144,2 milyar)
15. PT Adhi Karya (Rp130,4 milyar)
16. PT Pelayaran Nasional Indonesia (Rp125 ,9 milyar)
17. Perum Bulog (Rp117 milyar)
18. PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (US$12,7 juta)
19. PT Kereta Api Indonesia (Rp110 ,8 milyar)
20. PT Industri Kapal Indonesia (US$12,2 juta)
21. PT Wijaya Karya (US$11,4 juta)
22. Perum Perhutani (Rp88,8 milyar, US$758 ,6 ribu)
23. PT Asuransi Jawisraya (Rp90,4 milyar, US$6 ribu)
24. PT PANN Multi Finance (US$4,6 juta). (SPC-15/Tempo)

 

Berita Terkait

Leave a Reply

Mobile Site

QR Code - scan to visit our mobile site

Archives

© 2013 SuaraPengusaha.Com. All Rights Reserved | Pindah ke Situs Mobile