Calon Warisan Dunia, Tim Jepang-UGM Riset Desa Bawömataluo Selama 2 Minggu
Bisnis Daerah, Pilihan, Terkini Monday, July 2nd, 2012 - 05:48 pmSPC, Jakarta – Sebuah tim bersama ahli dari beberapa universitas di Jepang dan Universitas Gadjah Mada (UGM) saat ini sedang berada di Pulau Nias, Sumatera Utara.
Tepatnya di desa tradisional Desa Bawömataluo, Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan. Mereka tiba di sana pada Minggu (1/7/2012) dan akan berada di sana selama dua minggu.
“Hari ini kami sudah mulai melakukan pemeriksaan dan juga wawancara dengan warga. Hasilnya sejauh ini cukup memuaskan,” ujar Ketua Tim Peneliti Desa Bawömataluo, Nias Selatan pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik UGM yang juga Ketua Tim Bersama Jepang-UGM Dr. T. Yoyok Wahyu Subroto kepada Suarapengusaha.com melalui telpon selular, Senin (02/7/2012).
Selama berada di sana, tim yang melibatkan sejumlah professor dari berbagai disiplin ilmu dari Jepang itu akan memeriksa kembali rumah dan bangunan tradisional lainnya.
“Kami akan mewawancarai sekitar 100 warga pemilik rumah tradisional untuk mengetahui perubahan apa saja yang sudah terjadi pada bangunan rumah mereka. Sebab, Unesco itu menerapkan syarat yang sangat ketat untuk menjadikan sebuah situs budaya menjadi warisan dunia,” jelas dia.
Tim juga sudah bertemu dengan Bupati Nias Selatan Idealisman Dachi dan aparat Dinas Pariwisata daerah itu.
Selama riset di Desa Bawömataluo, tim sangat terbantu dengan sikap kooperatif aparat desa dan para tetua desa itu.
Tim itu telah memulai riset mereka pada Agustus tahun lalu. Setelah riset bulan ini, mereka akan melanjutkannya pada Oktober dan Desember. Tim juga akan bertemu dengan Wakil Menteri Pendidikan bidang Kebudayaan terkait dukungan untuk desa tersebut.
Desa Bawömataluo selama ini menghiasi berbagai media iklan produk dengan atraksi lompat batunya. Tapi sebenarnya, lebih dari itu, arsitektur desa yang telah berusia sekitar 200 tahun itu juga sangat unik dan sekaligus menjadi kekuatannya untuk ditawarkan sebagai warisan dunia.
Di desa itu juga masih berdiri salah satu rumah adat dari bahan kayu. Rumah itu salah satu yang terbesar dan tertua yang dimiliki Indonesia saat ini. Namun, meski selamat dari beberapa kali goncangan gempat dahsyat sejak 2004 lalu, kondisinya sudah rapuh karena faktor usia.
Desa Bawömataluo sendiri telah didaftarkan ke Unesco pada 2009 dan telah masuk dalam tentative list. Namun, entah kenapa, tidak pernah ada follow-up, baik dari pemerintah pusat, maupun daerah sampai akhirnya tim Jepang-UGM ini tiba untuk melakukan riset mendalam. (SPC-15)




























