Sabtu, 25 Mei 2013
Home » Opini » BBM Dalam Pusaran Drama Politik

BBM Dalam Pusaran Drama Politik

Suparno, Economist of SP Intelligent Unit (SPIU)

Oleh: Suparno, Economist of SPC Intelligent Unit (SPC-IU)

Kondisi makroekonomi tahun 2011 cukup kondusif dengan pertumbuhan 6,5%. Investasi tumbuh tinggi di atas prakiraan mengkompensasi penurunan kinerja ekspor sehingga mampu menopang kestabilan pertumbuhan ekonomi.

Kenaikan pertumbuhan investasi merespons membaiknya kondisi perekonomian domestik yang didukung oleh optimisme konsumen dan para pelaku usaha hingga akhir tahun lalu dan berlanjut pada bulan Januari 2012 yaitu CCI (Consumer Confidence Index) masing-masing sebesar 117 dan 119. Namun, sentimen atas ekspektasi rencana kenaikkan harga BBM tidak bisa terelakan dimana kepercayaan konsumen menurun pada Bulan Februari menjadi 112.

Pada triwulan I 2012, diperkirakan pertumbuhan ekonomi sebesar 6.5 (yoy), dimana motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi berasal dari akselerasi kinerja investasi, konsumsi rumah tangga, dan ekspor. Realisasi belanja Pemerintah diprakirakan tumbuh lebih rendah pada awal tahun sesuai pola historisnya dengan potensi perbaikan berupa percepatan penyerapan anggaran oleh pemerintah.

Sementara itu, akselerasi investasi didukung oleh optimisme pelaku usaha seiring dengan pencapaian peringkat layak investasi, potensi pendanaan yang meningkat, serta peningkatan realisasi infrastruktur dan belanja modal Pemerintah pada awal tahun.

Di sisi eksternal, perlambatan ekonomi global yang menurunkan daya serap negara mitra dagang utama diprakirakan mulai berdampak pada kinerja ekspor. Impor tumbuh tinggi meski melambat seiring dengan masih kuatnya permintaan domestik di tengah melambatnya kinerja ekspor.

Tren penurunan inflasi masih berlanjut pada Februari 2012. Secara tahunan, inflasi pada bulan Februari 2012 menurun menjadi 3,56% (yoy) dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 3,65%. Penurunan ini merupakan indikasi fundamental ekonomi yang masih terjaga dengan baik.

Namun demikian apabila dilihat dari potensi kenaikan inflasi di tahun 2011 maka kemungkinan BI akan menaikan BI rate-nya. BPS memproyeksikan bahwa inflasi tahun 2011 bisa menembus 7%, yang diakibatkan oleh rencana kenaikan harga BBM dalam rangka mengurangi beban subsidi pemerintah, walaupun sampai saat ini, rencana kenaikan BBM masih bergerak pasca hasil keputusan paripurna DPR.

Too Much Drama!: Ancaman Risiko Fiskal jika BBM tidak naik

Pemerintah secara resmi membatalkan kenaikkan harga BBM bersubsidi pada 1 April 2012 melalui sebuah keputusan politik yang cukup panjang. Secara ekonomi tentunya ini akan menekan kondisi perekonomian nasional karena beban anggaran yang semakin tinggi dan dikhawatirkan bisa mendorong defisit anggaran sampai 3%, sebuah batas maksimal yang diperbolehkan undang-undang. Sementara dalam RAPBN-P tahun 2012 yang diajukan pemerintah, jika terjadi kenaikan BBM bersubsidi Rp 1.500 per liter maka negara akan mengalami defisit sebesar Rp 190 Triliun atau sebesar 2,23%.

Walaupun pemerintah mendapat opsi kewenangan untuk menaikkan BBM bila harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) dalam kurun waktu enam bulan berjalan melampaui 15% dari ICP yang ditetapkan dalam RAPBN-P 2012 sebesar US$ 105 per barel atau sudah melewati US$ 120,75, namun kondisi ini semakin menunjukkan ketidakpastian.

Hal ini berdasarkan, statistik rata-rata ICP selama enam bulan terakhir tidak melabihi US$120,75 per barel (atau hanya 113,66 per barel) sementara defisit anggaran sudah cukup melebar. Apalagi data ICP sangat fluktuatif dan hanya bisa dilihat dari pergerakan harian, jadi jastifikasi sangat lebar dan terlalu tinggi.

… Jika BBM naik maka kondisi inflasi?

Berdasarkan simulasi yang dilakukan oleh SPUI terkait pengaruh kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi terhadap inflasi, diperkirakan inflasi tahun 2012 dapat dipastikan akan menembus 6%-7%, diatas target pemerintah sebesar 5.3%.
SPUI memprediksi, jika harga Premium dinaikkan Rp 1000 per liter, dampak langsungnya adalah inflasi akan bertambah 0.5%-0.6%. Sedangkan jika harga premium dinaikkan Rp 1.500 per liter, inflasi bertambah 0.8%-0.9%.

Simulasi kedua adalah menghitung dampak tidak langsung kenaikkan harga BBM yang terjadi pada bulan kedua setelah kenaikan harga BBM. Pada periode tersebut, inflasi akan kembali naik 1-1,5 kali dari bulan sebelumnya. Inflasi akan semakin buruk jika tarif dasar listrik (TDL) ikut dinaikkan 10%. Sebab inflasi akibat kenaikkan TDL dapat mencapai 0.18%. Serupa dengan kenaikkan harga BBM, ada dampak tidak langsung yang ditumbulkan sebesar 1-1.5 kali dari 0.18%. (SPC-15)

 

Berita Terkait

Leave a Reply

Mobile Site

QR Code - scan to visit our mobile site

Archives

© 2013 SuaraPengusaha.Com. All Rights Reserved | Pindah ke Situs Mobile